Sisa Rasa Bagian 5.

"Assalamualaikum Ali pulang," ujar Ali yang baru saja sampai dirumahnya.


"Waalaikumsalam," balas kedua orangtua Ali dan adiknya yakni 'Syakilla Delia Adriansyah'.


"Baru pulang bang?" tanya Killa.


Killa dan Ali jaraknya tidaklah jauh hanya berbeda 5 tahun saja kini Killa masih duduk dibangku SMA kelas 3 atau kelas akhir.


"Iya," balas Ali singkat.


Sifat Ali dan Killa tidak jauh berbeda yakni sama-sama mempunyai sifat dingin, cuek, dan susah untuk membuka hati. Tak jarang di sekolah Killa menjadi bahan incaran para laki-laki karena kecantikannya ditambah memiliki wajah yang sangat manis membuat semua laki-laki di sekolahnya ingin mengejar Killa tapi apalah daya Killa tidak menanggapi itu semua, bagi dirinya laki-laki yang ia percaya hanya Papa dan Ali saja.


"Dari rumah Kia bang?" tanya Nafilla, Bunda Ali dan Killa.


"Iya Bun, tadi mampir bentar sebelum pulang," balas Ali.


"Oh iya gimana Kia sekarang? Papa udah jarang banget ketemu sama dia," tanya Adriansyah, Papa Ali dan Killa.


"Baik kok Pa, dia semakin cantik dan sangat ceria," balas Ali dengan membayangkan wajah Kia saat tertawa dan tersenyum manis.


"Lo suka sama Kia?" tanya Killa dengan memincingkan matanya.


Ali menatap Kia tajam. "Apasih nggak jelas lo," elak Ali.


"Kenapa pas lo jawab muka lo senyum-senyum sendiri?" 


"Lah emangnya kenapa? Nggak boleh?"


"Berarti tandanya lo suka kan sama dia?"


"Nggak!"


"Alah bohong banget sih jadi orang,"


"Ali, Killa udah cukup sekarang waktunya makan malam dulu jangan berantem terus!" lerai Nafilla.


Ali dan Killa diam, Ali menatap Killa tajam sedangakan Killa hanya memeletkan lidahnya saja.


Walaupun mereka sering berantem tapi mereka sangat menyayangi satu sama lain walaupun keduanya sering gengsi untuk mengucapkan kata sayang tapi dihati mereka sangatlah menyayangi satu sama lain. Jika Killa sedang kesusahan dalam urusan sekolah tak jarang Ali sering membantunya, dan jika Killa sedang dalam bahaya Ali selalu melindungi Killa karena Ali tidak mau adik semata wayangnya terluka dan sedih, Killa harus bahagia tidak boleh sedih begitupun juga dengan Kia. Ali bagaikan pangeran yang melindungi ratu-ratunya tersebut.


"Ali udah selesai, Ali mau ke kamar dulu," pamit Ali setelah selesai makan.


****


Ali membuka ponselnya terdapat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kia dan ada beberapa pesan dari Kia yang membuat Ali tertawa pelan melihat isi pesan Kia.


"Alibaba lo udah sampai?"


"Ba kok nggak bales sih?"


"Gue khawatir sama lo tau nggak sih,"


"Janjinya mau kabarin tapi sekarang kok nggak?"


"Gue ngambek sama lo, jangan harap bisa ajak gue ngomong,"


"Baba ngeselin, sok ke gantengan eh tapi emang ganteng sih, ih tau ahh!!"


"Fine bye!"


Setelah membaca pesan dari Kia, Ali langsung membalasnya. "Gue udah sampai, maaf telat ngabarin karena gue tadi makan bareng keluarga dulu ini aja gue baru megang ponsel," ketik Ali dan langsung mematikan ponselnya karena ia ingin mandi agar badannya lebih segar lagi.


Setelah mandi Ali pergi ke balkon yang ada dirumahnya sambil menatap langit malam yang sangat indah, ada banyak sekali bintang yang menghiasi malam ini dan bulan sabit yang sangat terang membuat Ali merasa tenang.


"Bang?" panggil Killa.


Ali menoleh ke arah Killa. "Apa?" tanya Ali.


"Lagi ngapain lo?" 


"Sini duduk samping Abang," ujar Ali dengan menepuk kursi yang ada disamping nya.


Killa duduk di samping Ali.


"Gimana sekolah lo?" tanya Ali tanpa menatap Killa.


"Baik, Bang Killa mau tanya sama Abang,"


Ali menatap Killa bingung. "Apa?" tanya Ali bingung.


"Kalau ada yang deketin Killa, Killa harus ngapain Bang? Selama ini Killa udah menghindar tapi dia selalu berusaha untuk deketin Killa," ujar Killa takut karena takut Ali marah.


"Killa nggak boleh pacaran sebelum lulus jadi sarjana!" balas Ali tegas.


"T-tt,--"


"Nggak ada alasan apapun!" potong Ali dengan tegas.


Killa kesal dengan Ali karena melarang dekat dengan cowok apalagi pacaran. Selama ini Killa cuek dengan siapapun terutama cowok karena perintah Ali, Ali melakukan itu semua agar sekolah Killa tidak berpengaruh dan Ali mau Killa tidak boleh disakiti oleh siapapun.


Ali berdiri menghampiri Killa, saat disamping Killa, Ali memeluk Killa dari samping dengan mengelus kepala Killa lembut.


"Abang ngelakuin ini semua karena Abang sayang banget sama Killa, Abang nggak mau Killa nangis gara-gara cowok dan sekolah Killa akan terganggu nantinya," ujar Ali menjelaskan.


Killa memebalas pelukan Ali erat dan menatap Abangnya itu dengan tersenyum haru. "Makasih Abang karena selalu ada buat Killa, Killa sayang banget sama Abang. Killa yakin pasti Abang memperlakukan Killa dan Kak Kia sama dan Killa yakin Kak Kia sangat menyayangi Abang karena Abang selalu ada untuk Kak Kia dan Killa," ujar Killa.


Ali mengusap rambut Killa yang panjang penuh dengan kasih sayang.


****


Kia terbangun dari tidurnya karena bunyi alaram yang harus menandakan ia bangun untuk masuk kelas di kampsunya, menurut jadwal mata kuliah hari ini Kia masuk jam 9 pagi dan kelar jam 12 siang. Kia siap-siap untuk ke kampus, setelah siap Kia turun ke bawah untuk sarapan bersama Mamanya.


"Pagi Ma," sapa Kia lalu mencium kening Mamanya.


"Pagi sayang," balas Kaira.


"Hari ini kelasnya sampai jam berapa?" tanya Kaira.


"Jam 12 Ma," balas Kia sambil memakan rotinya.


"Mama pulang jam berapa nanti?" tanya Kia.


"Sekitar jam 7 malam kayaknya sayang," balas Kaira sambil mengaduk susu untuk Kia.


"Kalau gitu aku izin pergi bareng Baba ya Ma?"


"Yasudah, tapi jangan lama-lama ya," 


"Siap Ma!"


"Yasudah habiskan sarapan kamu habistu berangkat, oh ya Baba hari ini nggak ada kelas kan? Terus kamu berangkat bareng siapa?" tanya Kaira.


"Aku boleh bawa mobil dari pemberian Papa nggak ma?" tanya Kia hati-hati takut Mamanya marah karena selama ini Kaira melarang Kia membawa mobil karena takut terjadi apa-apa.


Kaira berfikir sejenak. "Hemm yasudah tapi hati-hati ya," ujar Kaira.


Kia yang mendengar tentu saja merasa senang dan memeluk sang Mama dengan erat.


"Makasih Mama sayang," ujar Kia di sela pelukannya.


Kaira mengelus rambut Kia lembut. "Sama-saya sayang," balas Kia.


"Aku pergi dulu ya Ma," pamit Kia dan mencium tangan Kaira.


"Hati-hati ya sayang," balas Kaira.


Saat hendak masuk mobil Kia mendapatkan sebuah pesan dari Baba.


"Hai cantik semangat belajarnya sorry hari ini gue nggak bisa jemput lo karena gue harus anterin adek gue ke sekolah juga," ketik Ali dalam pesannya.


Kia tersenyum membaca pesan Ali dirinya merasa seperti ratu yang sangat dilindungi oleh rajanya. "Iya nggak apa-apa kok Ba, gue pergi sendiri bawa mobil yang Papa kasih dulu. Pulang kampus gue ke rumah lo ya Ba sekalian kangen-kangenan sama Bunda Nafilla juga hehe," balas Kia di dalam pesan tersebut.


"Gue harap lo nggak akan pernah ninggalin gue Ba, cukup gue kehilangan Papa aja gue nggak mau kehilangan kedua kalinya laki-laki yang gue sayang," gumam Kia berharap Ali tidak akan pernah pergi meninggalkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sisa Rasa Bagian 6.

MEMAKSIMALKAN PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL