Sisa Rasa Bagian 7.
Di dalam mobil Killa terus saja menggerutu karena kesal dengan Ali gara-gara Ali, Killa hampir saja telat ke sekolah cuman hal sepele kenapa Abangnya semarah itu? Aneh sekali bukan?. Dan lebih parah lagi sebelum benar-benar berangkat Ali menyuruh Killa untuk mencuci tangan LAGI, ingat LAGI. Dan Killa hanya bisa pasrah karena kalau tidak dilakukanya Ali tentu saja sangat marah pada Killa, Killa berencana untuk membilangkan pada Nafilla dan Adriansyah apa yang terjadi sebelum Killa berangkat sekolah.
Selagi menunggu untuk sampai di sekolah Killa memakan pisang untuk sekedar mengisi perutnya terlebih dahulu agar saat jam pelajaran ia tidak merasa lapar, setelah selesai lantas Killa membuang kulit pisang di tempat sampah yang telah disediakan di bagian tengah mobil, saat Killa ingin membuang tidak sengaja Ali melihat dan menegur Killa.
"Ambil sampah lo lagi," ujar Ali tanpa melihat Killa.
Killa menatap Ali bingung. "Kenapa sih Bang masalah sepele ini lo marah? Gue kan cuman buang sampah kenapa harus ambil lagi?" tanya Killa dengan frustasi.
"Buang sampah harus rapih," balas Ali.
"What?! ini kan cuman sampah Bang SAMPAH!" Killa lagi-lagi sangat kesal dengan Ali.
"Walaupun sampah harus rapi nggak boleh berantakan,"
"Gila lo ya?"
"Gue nggak gila, gue masih waras,"
"Nggak lo tuh udah gila!"
Killa menatap arah jendela karena sangat kesal dengan Ali. Tak terasa akhirnya Killa sampai disekolah walaupun kesal Killa tidak melupakan untuk cium tangan Abangnya sebagai tanda pamitan.
"Belajar yang bener lo," ujar Ali dengan mengelus kepala Killa.
Killa hanya berdehem saja karena masih kesal dengan Ali.
Saat Killa ingin membuka pintu mobil langkah Killa terhenti saat Ali memanggilnya. "Kil?" panggil Ali.
Killa memutar bola matanya malas. "Apa lagi?" tanya Killa malas.
"Cuci tangan dulu sebelum masuk kelas,"
Tubuh Killa bersender ke bangku mobil sambil memijat pelipisnya karena pusing dengan tingkah aneh Ali saat ini.
"Ya Allah Bang, gue capek cuci tangan terus udah berapa kali gue cuci tangan coba lo tu sebenarnya kenapa sih Bang?" lirih Killa.
"Gue mau lo tu rapih,"
"Lo nggak liat gue tu udah rapih, wangi, bukan kucel, bau!"
"Pokoknya sebelum lo masuk kelae harus cuci tangan dulu!" tegas Ali.
"Huh iya-iya ABANGKU SAYANG!" ujar Killa penuh penekanan.
Ali tersenyum senang mendengar ucapan Killa.
"Puas lo?!" ketus Killa.
Setelah keluar dari mobil Killa langsung melangkah ke kelasnya dengan perasaan yang sangat kesal.
****
Selama di jalan pulang Ali selalu mikir bahwa ada yang aneh di dirinya ini kenapa ia seperti ini tidak seperti biasanya.
"Gue sebenarnya kenapa sih?" gumam Ali bingung. Tanda disadari Ali bahwa kepalanya sedari tadi mengangguk sendiri seolah ada yang berbicara pada dirinya tapi tidak ada siapa-siapa selain Ali di mobil ini dan itu terus saja berulang-ulang dan sangat sulit sekali untuk memberhentikannya.
"Lah kepala gue kenapa sih ini daritadi ngangguk mulu nggak berhenti-henti? Dan kenapa gue sekarang nggak bisa lihat kotor bahkan nggak logis aja gue suruh Killa buang sampah secara rapi, sebenarnya gue bingung tapi entah kenapa hati gue bilang kayak gitu dan sangat sulit untuk memberhentikannya. Sebenarnya gue kena penyakit apa sih kok bisa kayak gini?!" batin Ali resah.
Saat lampu merah mobil Ali berhenti dan ia memutuskan untuk melihat ponselnya sebentar sebelum lampu hijau menyala, saat membuka ponsel Ali melihat pesan dari Kia yang membuat Ali tersenyum.
"Gue kayaknya lama deh ke rumah lo soalnya Dosen yang ngajar sekarang ngaret terus dikasih tugas kelompok lagi, sorry ya Ba," ujar Kia dalam pesan tersebut.
Jari Ali langsung saja membalas pesan Kia. "Iya nggak apa-apa kok, semangat belajarnya!" balas Ali dalam pesan tersebut. Dan setelah membalas lampu hijau menyala lantas Ali menaruh kembali ponselnya dan berjalan menuju pulang.
"Gue kayaknya harus ke psikologi deh untuk tanya-tanya eh tapi kan psikologi untuk orang yang punya masalah besar yang susah untuk dibagi ke orang, apa gue harus ke dokter aja ya?" pikir Ali di sepanjang jalan.
****
"Bila, Kia, makan dikantin dulu yuk," ajak Fauzana karena kelas baru saja selesai dan perutnya terasa sangat lapar sekali.
"Gimana kalau kita ke cafe sebrang aja?" tawar Bila.
Fauzana memikirkan terlebih dahulu lalu ia mengangguk setuju. "Boleh tuh, kalau lo gimana Ki?" tanya Fauzana.
"Boleh, ayuk deh!" balas Kia.
Mereka bertiga pergi meninggalkan kelas untuk ke cafe sebrang kampus mereka. Saat berjalan Kia tidak sengaja menabrak seseorang untuk kedua kalinya.
"Aduh maaf ya gue nggak sengaja," ujar Kia dengan meminta maaf.
Orang yang tidak sengaja ditabrak Kia menatap Kia penuh selidik. "Lo Kia yang selalu bareng sama Ali kan?" tanya orang tersebut.
Kia menatap heran bagaimana orang ini bisa tau. "Kok lo tau nama gue?" tanya Kia heran.
Bukan menjawab orang tersebut hanya tersenyum miring. "Nggak penting tau darimana yang jelas gue pengen kasih tau lo kalau lo harus jauhin Ali dari sekarang!" ujar orang tersebut.
Kia, Fauzana, dan Bila terkejut mendengar penuturan orang tersebut.
"Atas dasar apa lo suruh dia jauhin Ali?" ketus Fauzana.
"Karena gue suka sama dia!"
"Lo suka sama dia? Sedangkan dia nggak akan pernah bisa buka hati untuk siapapun dan lo harus terima kenyataan itu," balas Bila dengan tersenyum miring sambil menatap orang tersebut tajam.
"Kita liat aja nanti pasti Ali akan jadian sama gue, dan lo pasti diabaikan oleh Ali," setelah mengucapkan itu orang tersebut langsung pergi dari hadapan Kia, Fauzana, dan Bila.
"SETRES LO!" teriak Bila.
"Emang Ali nggak pernah cerita sama lo Ki?" tanya Fauzana.
Kia menggeleng pelan. "Dia nggak ada cerita sih sama gue, nanti coba gue tanya sama dia," balas Kia.
"Yaudah yuk lanjut jalan," ajak Bila.
Mereka melanjuti jalan untuk menuju ke cafe sebrang kampus. Tanpa disadari Fauzana dan Bila, Kia terus saja mengingat perkataan orang tersebut yang membuat hatinya merasa tidak rela kalau Babanya akan diambil oleh orang tersebut, Kia takut perhatian Ali akan berkurang pada Kia, Kia takut Ali berubah, Kia nggak mau Ali pacaran padahal dirinya sendiri yang selalu bilang untuk Ali mencari pacar tapi kenapa sekarang Kia tidak rela?.
Komentar
Posting Komentar